Sharing: Study Tour ke Prefektur Fukui, Jepang

Hai. Pada kesempatan kali ini untuk menceritakan pengalaman di Jepang pada tanggal 21-22 November 2017, dengan sedikit foto dan video yang kuambil dalam trip ke Prefektur Fukui. Karena sebentar lagi akan ada MangaFest 2017 di JEC (25-26 November 2017, jangan lupa datang ya!), saya, Pepo sebagai mantan menteri Kominhum Himaje (Sept 16-Sept 17) akan mengisi sedikit kekosongan artikel web Himaje (karena mereka kerja banting tulang demi MangaFest yang selalu kita tunggu-tunggu!).

IMG_20170927_110920

Kebetulan, aku sukses berangkat ke Osaka-fu pada tanggal 25 September 2017, berkat banyak bantuan dan dukungan dari teman-teman, sensei-sensei, dan keluarga yang supportif kepada seorang saya. Terimakasih banyak! Kebetulan, di CJLC Osaka University (pusat bahasa dan budaya Jepang OU) selalu mengadakan berbagai Kengaku Ryoukou atau Study Tour dengan harga yang cukup miring (terkadang gratis) sehingga aku mendapatkan kesempatan jalan-jalan dan memperdalam ilmu mengenai kebudayaan Jepang di Fukui-ken hanya dengan 4,000 Yen saja. Harga menginap di penginapan yang memiliki Onsen, normalnya 23,000+++ Yen, yang bila berangkat dengan uang sepenuhnya milik pribadi bisa memakan 40,000 Yen. Jadi baik yang belum memiliki minat untuk mencoba beasiswa ke Jepang, coba pikirkan lagi karena disini banyak untungnya daripada ruginya.

IMG_20171024_135213
Pengumuman Pendaftaran Study Tour di CJLC Osaka University

Karena kalau membicarakan uang tak akan ada habisnya, langsung saja kuceritakan perjalanan dan pengalamanku. Jadi pada tanggal 21 November aku bersama seluruh teman-teman mahasiswa asing di CJLC berangkat ke Fukui-ken menuju ke tempat pembuatan Washi (kertas tradisional Jepang), Toujinbou (daerah tebing pinggir pantai), dan menuju penginapan dengan Awara Onsen di dalamnya. Hari berikutnya dari penginapan kami menuju Eiheiji (kuil Buddha), dan Ichijoudani (sisa-sisa peninggalan Klan Asakura). Walau perjalanan memakan waktu yang cukup lama, tetapi semua perjalanan terasa mengasyikkan dengan teman-teman disekitarku. Di perjalanan ini aku dapat mempererat pertemanan, dengan teman dari Bali, Hungaria, Polandia, Myanmar, Taiwan, Chili, dan negara-negara lainnya.

Pada trip pertama, kami mencoba membuat kertas Jepang menggunakan serat batang pepohonan, dengan cara yang cukup sederhana. Serat dan air yang ada dalam sebuah bak kita saring dengan sebuah saringan rapat berbentuk persegi. Serat dan air tinggal di ambil menggunakan saringan tersebut, sambil di ayak kanan-kiri, maju-mundur secara bergantian hingga air merembes seluruhnya. Secara dasar prosesnya berhenti disini, tetapi sebagai kenang-kenangan kami diberikan bahan-bahan hiasan (seperti bunga, dedaunan kering, dan pewarna) yang dapat kami bubuhkan pada kertas kami. Walau aku tak begitu mahir dalam menghiasnya, cukup menarik bukan untuk dijadikan kenang-kenangan saat pulang ke Indonesia?

IMG_20171121_144557_HDRx
Washi yang telah dihias

Disana juga terdapat toko souvenir yang menjajakan berbagai macam benda yang terbuat dari serat tumbuhan, yang sangat menarik.

 

 

 

 

Hiasan-hiasan yang ada sangat unik dan lucu, dari hewan hingga tanaman. Selain itu disana juga terdapat kartu pos, amplop, buku catatan, tas kertas dan lain-lain.

 

 

 

 

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Toujinbou, dengan pemandangan yang indah. Di musim gugur yang terasa bagaikan musim dingin (sekitar 4 derajat Celcius), tanganku terasa sedikit sakit, dan dingin bak es batu. Tetapi sangat indah, mengasyikkan dan sedikit memicu adrenalin (saat melihat ke arah bawah, walaupun aku acrophobia).

Waktu untuk menikmati pemandangan di Toujinbou habis, kami pun pergi ke penginapan yang hanya memakan sekitar 20 menit saja. Disana kami pun langsung membereskan barang bawaan kami, berganti dengan yukata yang telah disiapkan dalam kamar, dan kemudian menikmati makan malam yang cukup lengkap. Bahkan juga tersedia sashiminabe, dan dessert mango pudding. Setelah makan di ruang itu juga kami pun menyanyikan beberapa lagu pada mesin karaoke yang terdapat di bagian depan ruang makan tersebut. Aku menyanyikan Zankoku na Tenshi no Teeze bersama dua orang teman perempuan dan Mirai he bersama seorang teman laki-laki.

received_2017165185197462_x
Karaoke ‘Mirai he’ di depan sekitar seratus orang

Karena malu untuk mandi di onsen tanpa mengenakan apa pun di depan orang lain, aku dan dua teman dari Myanmar dan Taiwan memasuki onsen bertiga di pukul 1 dinihari, tanpa ada bayangan orang lain disana. Suhu onsen yang kami masuki cukup panas, bahkan mungkin sedikit lebih panas dari 40 derajat Celcius. Hanya sekitar 10 menit berendam, saking panasnya aku merasakan tubuhku sedikit kesemutan dan segera keluar dari dalam onsen. Beruntungnya, karena penginapan ini penginapan cukup mahal (dengan ongkos per malam, per orang lebih dari 20,000 Yen), terdapat body wash, shampoo, hair conditioner, krim hair treatment, krim shaving, hair dryer, sisir, pisau cukur, dan fasilitas lainnya yang harganya cukup mahal bila dibeli di toko. Kebetulan pada waktu itu aku meninggalkan smartphone di kamar, dan tidak memotret apapun mengenai onsen.

IMG_20171121_184035_HDR.jpg
Satu set makanan yang disediakan oleh penginapan

Pada pagi harinya, kami makan pagi dan berangkat ke Eiheiji. Disana penuh dengan keindahan daun Momiji, juga arsitektur, patung, dan berbagai monumen berbau agama Buddha Jepang. Sungguh indah dan pengalaman yang menajubkan. Tak lupa juga aku dan teman-teman mengambil beberapa daun Momiji indah yang berguguran untuk dijadikan hiasan dan pembatas buku.

 

 

 

 

 

Sekitar 3 jam kami berjalan mengitari kuil dan memotret berbagai pojok dan titik-titik menarik di dalam kuil. Tak lupa aku rekam sedikit video untuk mengabadikannya.

 

 

 

 

Setelah puas dengan foto-foto di Eiheiji, kami pun melanjutkan perjalanan menuju reruntuhan Clan Asakura. Karena hanya sebentar saja (sekitar 1 jam) dan reruntuhannya cukup banyak dan sangat luas, aku tak sempat mengambil banyak gambar disana. Tetapi menjelajahi arsitektur kuno Jepang bukanlah hal yang membosankan.

received_2017925078454806

Setelah itu kami langsung pulang ke CJLC Osaka University, yang memakan sekitar dua jam. Walaupun terasa sedikit cepat dan padat, aku merasa bahwa pengalaman ini akan menjadi pengalaman yang sangat sulit untuk dilupakan.

Dalam perjalanan pulang aku merasa bahwa pertemanan dan persahabatan kami menjadi lebih erat, dan membuatku merasa sangat sedih membayangkan perpisahan di bulan September tahun depan. Bukan berarti aku tidak ingin bertemu dengan teman dan keluarga di Indonesia, tapi bertemu seseorang dengan latar belakang yang berbeda, tetapi dengan situasi yang mirip membuatku merasa sangat menajubkan. Tetapi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menghargai setiap pertemuan. Seperti kata「一期一会」 (ichi go ichi e) yang berarti menghargai, memperlakukan setiap pertemuan bagaikan pertemuan terakhir. 「出会いにはいつか必ずサヨナラが来る」(setiap pertemuan suatu saat akan datang perpisahan).

IMG_20171122_102550_HDR

Jadi bagi siapapun, jangan sungkan untuk mencari kesempatan beasiswa ke Jepang ya! Kalau berusaha dan mencoba bertanya/mencari informasi pasti ada kesempatan kok. Jalan hidup mungkin masih panjang, membingungkan dan meliuk-liuk. Jadi mari kita gunakan kesempatan yang ada. Karena walau mungkin kesempatannya tak lama, pengalaman yang didapat bisa jadi sungguh sangat berharga dan tak dapat tergantikan.

Pepo
-mantan menteri Kominhum Himaje Sept 16 (pengganti Bayu B.M.) ~ Sept 17 (digantikan Julio B. P.)

(seluruh foto dan video merupakan koleksi pribadi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s